PEMBUATAN KRIM PELEMBAB DARI LIKOPEN HASIL ISOLASI DAGING BUAH SEMANGKA (CITRULLUS LANATUS TUNB) DENGAN MENGGUNAKAN BY PRODUCT GLISEROL DARI ESTERIFIKASI MINYAK JELANTAH

  • Ratih Paramitha

Abstract

Pembuatan krim pelembab dari likopen hasil isolasi daging buah Semangka (Citrullus lanatus Tunb) dengan menggunakan by product gliserol dari minyak jelantah telah dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah pembuatan krim pelembab dari likopen daging buah semangka dan gliserol dari minyak jelantah, dengan metode refluks dari daging buah semangka dan transesterifikasi gliserol dari minyak jelantah. Pembuktian likopen pada daging putih buah semangka dan gliserol pada minyak jelantah dilakukan dengan analisis gugus fungsi menggunakan spektrofotometer FTIR, setelah gliserol dan likopen didapat dilanjutkan dengan pembuatan sediaan krim yang dibuat sebanyak 5 formulasi yaitu formula 1, 2, 3, 4, 5.

 Pembuatan sediaan krim yang pertama dibuat dari formula 1, 2, dan 3 dengan memodifikasi konsentrasi dari likopen, kemudian dilakukan uji parameter sediaan krim dan 3 formula tersebut dipilih formula yang paling bagus. Pembuatan krim dilanjutkan ke formula 4 dan 5 dengan memodifikasi konsentrasi hasil gliserol dari minyak jelantah, kemudian dilakukan uji parameter sediaan krim. Parameter uji yang dilakukan pada masing-masing formulasi adalah uji organoleptis, homogenitas, pengukuran pH, tipe emulsi, stabilitas sediaan, iritasi pada sukarelawan, dan kemampuan sediaan untuk melembabkan kulit menggunakan alat skin analyzer.

Hasil gugus fungsi dari spektrofotometer FTIR daging buah semangka menunjukkan bahwa didalam daging putih semangka benar adanya likopen, hal ini dibuktikan dengan adanya gugus karbon rangkap dua (alkena) C=C dan gugus CH. Hasil gliserol dari minyak jelantah menunjukkan bahwa didalam minyak jelantah benar adanya gliserol, hal ini dibuktikan dengan adanya gugus CH dan OH. Hasil uji parameter sediaan krim yang dilakukan diperoleh, uji organoleptis F1-F5 tidak menunjukkan adanya perubahan, bau, bentuk, dan warna sediaan krim. Uji homogenitas F1-F5 sediaan krim pelembab menunjukkan tidak adanya butiranbutiran kasar. Uji pengukaran pH sediaan yang diperoleh rata-rata berada pada range pH kulit, namun pada uji stabiltas minggu ke-3 pada suhu 40°C formula 3-5 terjadi perubahan tekstur pada sediaan yang menunjukkan perubahan warna menjadi kekuningan, hal ini dapat disimpulkan bahwa faktor suhu mempengaruhi kestabilan krim, karena disebabkan pada setiap kenaikan suhu sebesar 10°C dapat meningkatkan laju reaksi menjadi dua kali lipat. Formulasi krim pelembab kulit dalam penelitian ini yang paling bagus adalah F2, karena formula ini yang stabil dalam penyimpanan.

Published
2019-10-20