PERBANDINGAN METODE EKSTRAKSI TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDANDARI EKSTRAK SIMPLISIA RIMPANG INDUK KUNYIT (CURCUMA LONGA L.)

  • Yachinta Azhari

Abstract

Induk kunyit termasuk tanaman suku temu-temuan (Zingiberaceae) yang dimanfaatkan sebagai ramuan obat tradisional untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Induk kunyit diproduksi dalam bentuk ekstrak agar mutu induk kunyit tahan lama. Ekstrak dibuat bertujuan untuk menarik semua komponen senyawa kimia yang terdapat dalam simplisia. Ekstrak ini diperoleh melalui metode ekstraksi sederhana dengan metode maserasi. Metode ini dipilih karena lebih efektif dan memerlukan alat yang sederhana. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat perbandingan aktivitas antioksidan dari serbuk simplisia rimpang induk kunyit dengan menggunakan dua metode maserasi.

Hasil skrinning fitokimia yang didapatkan adanya senyawa flavonoid, tanin, saponin, alkaloid dan steroida. Hasil penelitian uji aktivitas antioksidan ketiga ekstrak termasuk kategori sangat kuat. IC50 ekstrak etanol maserasi konvensional sebesar 28,84ppm, IC50 ekstrak etanol elektrosintesis sebesar 49,75 ppm dan IC50 ekstrak air elektrosintesis sebesar 43,74ppm. Hal ini dapat disimpulkan bahwa perbedaan metode maserasi mempengaruhi uji aktivitas antioksidan. Ekstrak etanol maserasi konvensional nilai IC50 nya lebih kuat daya aktivitas antioksidannya dibandingkan dengan metode elektrosintesis, sebab senyawa kimia aktif metabolit sekunder dengan pelarut etanol teroksidasi menggunakan metode elektrosintesis dengan tegangan listrik yang cukup tinggi. Perbedaan pelarut dengan metode coupling elektrosintesisjuga mempengaruhi uji aktivitas antioksidan. Ekstrak air nilai IC50 nya lebih kuat daya aktivitas antioksidannya.

Published
2019-10-20